“Legal Sex” di Geylang

Traveling ke tempat-tempat yang baru pertama kali dikunjungi, selalu ngasih kita pengalaman baru. Tak terkecuali ke Singapura.

Kalo kamu traveling ke Singapore, yang musti disiapin cuma dua hal. Duit dan iman.

Duit udah pasti. Gak ada barang murah di Singapore. Air mineral kemasan 1,5 liter aja harganya bisa 3,5 SGD (hampir Rp 30 ribu). Sekali makan minimal ngabisin 5 SGD.

Iman? Buat cowok, siap-siap aja ngelawan godaan dan rayuan cewek-cewek Singapore. Terutama kalo selama di Negeri Singa ini kamu stay di Geylang.

Geylang tak jauh dari pusat kota, cuma butuh 10 menit taksi, 20 menit jalan kaki dan naik bis atau MRT. Di Geylang banyak hotel atau penginapan murah yang terjangkau kantong.

Tiba di Geylang, dengan mudah kita temui deretan cewek abege berdiri di sepanjang pinggir jalan. Dengan pakaian seksi, body dan wajah yang kalo di Indonesia minimal udah jadi covergirl, bintang iklan, atau artis FTV.

Ternyata, cewek-cewek yang berdiri dan membentuk beberapa grup itu -satu grup biasanya 3-4 cewek, mereka lagi menjajakan diri alias “cari pelanggan”.

Tanpa ragu mereka mendekati, menyapa, bahkan menggandeng pria yang lewat. “Favorit” cewek-cewek ini adalah bule ekspat, Chinese, dan beberapa Melayu -termasuk ‘turis’ Indonesia.

Aku sempet ‘iseng’ lewat salah satu trotoar yang jadi tempat mereka mangkal. Tak sampai sepuluh langkah, udah ada seorang cewek yang nyamperin. Chinese. Cakep. Mirip abege-abege girlband yang lagi ngetop itu. Dia ngomong Mandarin, gak bisa Singlish. Tapi dari bahasa tubuhnya, udah bisa ditebak seperti ini “Ayo mas, pakai aku. Check-in yiuks!”

Memang, tak semua “kupu-kupu” Geylang ini tak bisa bahasa Inggris atau Melayu. Aku juga ketemu salah satu dari mereka yang berasal dari Indonesia. Ngakunya dari Medan. Sebut aja namanya Dita, masih 20 tahun. Beberapa temennya dari Indonesia juga sering mangkal di Geylang. Ada juga yang enggak mangkal, tapi pake sistem panggilan.

Menurut Dita, tarif mereka relatif “terjangkau”. Paling mahal 100 SGD, udah include room hotel. Paling murah 30an SGD. Tapi itu tergantung nego dengan pelanggan. Tarif antara yang asli Singapore, Melayu, Chinese, Thailand, dan Indonesia emang beda-beda.

Salah satu temen rombongan ke Singapore, Pak Edi dari Medan, cerita kalo banyak dari cewek-cewek ini adalah korban trafficking. Beberapa sengaja dikirim dari daerah-daerah di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Palembang, Riau, Medan. Beberapa ada yang “bekas” dipakai pejabat. Kalo yang non Indonesia, kebanyakan dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan China.

Tak semua dari cewek-cewek itu langsung frontal ngajak check-in. Ada yang cuma butuh temen ngobrol. Ngopi di cafe atau semacamnya. Kalo check-in, kebanyakan short time.

Banyak hotel di Geylang yang kasih “paket” short-time ini di kisaran 40an SGD. Saat weekend atau hari libur, hotel-hotel ini menolak tamu yang stay harian karena lebih mengutamakan tamu short-time. Kalo dalam sehari satu kamar bisa nerima 3-4 tamu, udah keitung tuh berapa kali lipat keuntungan hotel yang nerima paket short-time.

Geylang, seperti halnya pusat kota Singapura, bisa disebut “City that never sleep”. Kehidupan di kota ini terus hidup 24 jam, weekday maupun weekend. Demikian pula kupu-kupu Geylang. Mereka cari pelanggan gak kenal waktu. Pagi, siang, sore, malem, sampai dini hari tetep standby.

Salah satu sopir taksi yang aku tumpangi ke hotel pun sempet nawarin “paket” dua cewek. Udah include room hotel. Dia banyak cerita, banyak pelanggannya yang minta bantuan dia untuk nyariin cewek sekaligus hotel. Istilahnya “one stop service”. Kita tinggal kasih tip beberapa dolar ke si supir.

Sebenernya, “wisata sex” di Geylang ini enggak bener-bener “free” atau legal. Sempet beberapa kali aku lihat cewek-cewek yang lagi mangkal itu kabur ketika ada polisi patroli. Kalo di kita mungkin semacam operasi pamong praja. Tapi 5-10 menit kemudian mereka udah balik lagi. Dan rata-rata mereka enggak terlalu lama berdiri nunggu pelanggan. Paling banter 30 menit udah ada mobil atau taksi pelanggan yang jemput.

Itulah salah satu sisi lain dari “Beautiful city that never sleep”.

@zulfikaralex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website